KONSEP DASAR MATEMATIKA 1
TUGAS KELOMPOK
(NILAI TEMPAT SISTEM NUMERASI)

Di Susun Oleh Kel. 4
Kelas : 1.F
Hasna Darajat
Muhammad Iqbal
Rina Islamiyati
Nurul Aqsha Handayani
Yesi Priyanti
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG
A.
PENGERTIAN NILAI
Nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna
bagi manusia. Sesuatu itu bernilai berarti sesuatu itu berharga atau berguna
bagi kehidupan manusia.
MACAM-MACAM NILAI
Dalam filsafat, nilai dibedakan dalam tiga macam, yaitu
a. Nilai logika adalah nilai benar salah.
b. Nilai estetika adalah nilai indah tidak indah.
c. Nilai etika/moral adalah nilai baik buruk
Dalam filsafat, nilai dibedakan dalam tiga macam, yaitu
a. Nilai logika adalah nilai benar salah.
b. Nilai estetika adalah nilai indah tidak indah.
c. Nilai etika/moral adalah nilai baik buruk
B.
Pengertian Nilai Tempat
Untuk menyebut hasil membilang diperlukan bilangan, dan untuk menyatakan
bilangan perlu lambang. Tentu saja kurang praktis dan mempersulit pekerjaan
jika setiap dua bilangan yang berbeda mempunyai lambang atau susunan lambang
yang sama sekali berbeda. Dapat dibayangkan bagaimana sulitnya kita mengingat
jika bilangan-bilangan dari 1 sampai 1000 masing-masing menggunakan lambang
yang sama sekali berbeda satu sama lain. Ini berarti bahwa kita perlu mencapai
lambang-lambang bilangan yang terbatas, dan membuat peraturan yang sistematis
dan tata asas untuk menyusun lambang bilangan yang manapun, sehingga berbentuk
sistem numerasi.
Suatu sistem numerasi disebut sistem tempat jika nilai dari lambang-lambang
yang digunakan menerapkan aturan tempat, sehingga lambang yang sama mempunyai
nilai yang tidak sama karena tempatnya berbeda. Sistem nilai tempat yang pernah
dikenal adalah sistem Mesir kuno, sistem Yunani kuno, sistem Cina, sistem Maya,
dan sistem Hindu-Arab.
Sistem ini menentukan sepuluh lambang dasar (pokok) yang disebut angka (digit),
yaitu 0.1.2.3.4.5.6.7.8, dan 9. pemilihan sepuluh angka dipengaruhi oleh
banyaknya sepuluh jari-jari tangan (kaki), yaitu 10, sehingga sistem ini lebih
dikenal dengan sebutan sistem desimal (latin: decem=10)
Di dalam desimal, penulisan lambang bilangan menggunakan pengelompokan
kelipatan 10:
- Bilangan-bilangan
dari 0-9 dilambangkan = lambang angka.
Nol =
0
Lima = 5
Satu =
1
Enam = 6
Dua =
2
Tujuh = 7
Tiga =
3
Delapan =8
Empat=4
Sembilan =9
2.
Bilangan yang satu lebih dari bilangan 9 disebut 10. Bilangan 10 terdiri
atas sepuluh satuan. Pengelompokan sepuluh satuan menjadi satu menghasilkan :
Satu Puluhan
IIIIIIIIII = 10 satuan =1 puluhan
Lambang satu puluhan adalah
sepuluh. Lambang-lambang kelipatan sepuluh adalah:
20
= dua puluh, memuat dua puluhan
30
= tiga puluh, memuat tiga puluhan
90
= sembilan puluh, memuat sembilan pulihan.
Perhatikan peragaan-peragaan
berikut
= dua puluh = 20
♪
♪
♪♪
♪♪
♪♪
♪♪
♪♪
♪♪
♪♪
♪♪ = tiga puluh = 30
♪♪
♪♪
♪♪
♪
♪
♪♪
♪♪
C.
Pengertian Sistem Numerasi
Sistem numerasi adalah sekumpulan
lambang dan aturan pokok untuk menuliskan bilangan. Lambang yang menyatakan suatu bilangan disebut numeral/ lambang
bilangan.Banyaknya suku bangsa di dunia menyebabkan banyaknya sistem numerasi
yang berbeda. Oleh karena itu suatu bilangan dapat dinyatakan dengan
bermacam-macam lambang, tetapi suatu lambang menunjuk hanya pada satu bilangan
Sistem numerasi yang
dikenal sebagai berikut :
1.Sistem
Numerasi Romawi
Sistem numerasi Romawi berkembang terus menerus dan mengalami perkembangan. Dalam sistem ini beberapa I,V, X, L, C, D, M yang berturut turut mewakilibilangan-bilangan satu, lima, sepuluh, lima puluh, seratus, lima ratus, dan seribu. Lambang bilangan lain ditulis dengan mengunakan simbol dasar tersebut dengan aturan tertentu.
Bila lambang sebuah bilanganditulis dengan dua simbol dimana simbol disebelah kanan mewakili bilangan yang lebih kecil daripada angka yang diwakili simbol disebelah kirinya, maka arti penulisan lambang bilangan tersebut adalah jumlah.
Contoh :
* VI mewakili bilangan 6, sebab I mewaliki bilangan yang lebih kecil dari bilangan yang lambang bilangannya V, dan I berada disebelah kanan bilangan bilangan yang lambang bilangannya V. Dengan demikian VI sama dengan penjumlahan satu dengan lima, sama dengan enam.
* XVI
mewakili bilangan 16, sebab V dan I mewakili bilangan yang lebih kecil dari
bilangan yang lambang bilangannya X, dan V serta I berada disebelah kanan
bilangan yang lambang bilangannya X. Dengan demikian, XVI sama dengan
penjumlahan sepuluh dengan lima dan satu, sama dengan enam belas.
Bila lambang sebuah bilangan ditulias dengan dua simbol, dimana simbol disebelah kiri mewakili bilangan yang lebih kecil dari angka yang diwakili simbol disebelah kanannya, maka arti penulisan lambang bilangan tersebut adalah selisih.
Contoh :
* IV mewakili bilangan 4,sebab mewakili bilangan yang lebih kecil dari bilangan yang
lambang bilangannya V, dan I disebelah kiri bilangan yang lambang bilnagnnya V.
Dengan demikian IV sama dengan selisih satu dengan lima, sama dengan empat.
Bila dua angka atau lebih yang sama nilainya ditulis berdampingan, simbol penulisan tersebut berarti jumlah.
Contoh:
* II berarti 1+1 = 2
* XXberarti 10+10 = 20.
2. Sistem Numerasi Babilonia
Bila lambang sebuah bilangan ditulias dengan dua simbol, dimana simbol disebelah kiri mewakili bilangan yang lebih kecil dari angka yang diwakili simbol disebelah kanannya, maka arti penulisan lambang bilangan tersebut adalah selisih.
Contoh :
* IV mewakili bilangan 4,sebab mewakili bilangan yang lebih kecil dari bilangan yang
lambang bilangannya V, dan I disebelah kiri bilangan yang lambang bilnagnnya V.
Dengan demikian IV sama dengan selisih satu dengan lima, sama dengan empat.
Bila dua angka atau lebih yang sama nilainya ditulis berdampingan, simbol penulisan tersebut berarti jumlah.
Contoh:
* II berarti 1+1 = 2
* XXberarti 10+10 = 20.
2. Sistem Numerasi Babilonia
Matematika Babilonia berpadu dengan Matematika Yunani dan Mesir untuk membangkitkan Matematika Yunani. Kemudian di bawah Kekhalifahan Islam, Mesopotamia, terkhusus Baghdad, sekali lagi menjadi pusat penting pengkajian Matematika Islam.
Bertentangan dengan langkanya sumber pada Matematika Mesir, pengetahuan Matematika Babilonia diturunkan dari lebih daripada 400 lempengan tanah liat yang digali sejak 1850-an. Lempengan ditulis dalam tulisan paku ketika tanah liat masih basah, dan dibakar di dalam tungku atau dijemur di bawah terik matahari. Beberapa di antaranya adalah karya rumahan.
Bukti matematika tertulis adalah karya bangsa Sumeria, yang membangun peradaban kuno di Mesopotamia. Mereka mengembangkan sistem rumit metrologi sejak tahun 3000 SM. Dari kira-kira 2500 SM ke muka, bangsa Sumeria menuliskan tabel perkalian pada lempengan tanah liat dan berurusan dengan latihan-latihan geometri dan soal-soal pembagian. Jejak terdini sistem bilangan Babilonia juga merujuk pada periode ini.
Sebagian besar lempengan tanah liat yang sudah diketahui berasal dari tahun 1800 sampai 1600 SM, dan meliputi topik-topik pecahan, aljabar, persamaan kuadrat dan kubik, dan perhitungan bilangan regular, invers perkalian, dan bilangan prima kembar.
Lempengan
itu juga meliputi tabel perkalian dan metode penyelesaian persamaan linear dan
persamaan kuadrat. Lempengan Babilonia 7289 SM memberikan hampiran bagi √2 yang
akurat sampai lima tempat desimal. Matematika Babilonia ditulis menggunakan
sistem bilangan seksagesimal (basis-60). Dari sinilah diturunkannya penggunaan bilangan
60 detik untuk semenit, 60 menit untuk satu jam, dan 360 (60 x 6) derajat untuk
satu putaran
lingkaran, juga penggunaan detik dan menit pada busur lingkaran yang melambangkan pecahan derajat. Juga, tidak seperti orang Mesir, Yunani, dan Romawi, orang Babilonia memiliki sistem nilai-tempat yang sejati
3. Sistem Numerasi MesirKuno
lingkaran, juga penggunaan detik dan menit pada busur lingkaran yang melambangkan pecahan derajat. Juga, tidak seperti orang Mesir, Yunani, dan Romawi, orang Babilonia memiliki sistem nilai-tempat yang sejati
3. Sistem Numerasi MesirKuno
Sistem
mesir kuno yaitu memberikan rumus-rumus luas dan cara-cara perkalian,
pembagian, dan pengerjaan pecahan, lembaran itu juga menjadi bukti
bagi pengetahuan matematika lainnya, termasuk bilangan komposit dan prima rata-rata aritmetika, geometri, dan harmonik;
dan pemahaman sederhana Saringan Eratosthenes dan teori bilangan sempurna
(yaitu, bilangan 6). Lembaran itu juga berisi cara menyelesaikan persamaan
linear orde satu juga barisan aritmetika dan geometri.
4.Sistem Yunani Kuno Attik
4.Sistem Yunani Kuno Attik
Ahli-ahli matematika dari Yunani beserta temuan teorinya, seperti Euclides, Archimides, Appollonius. Bangsa Yunani telah mengenal huruf dan angka pada tahun 600 S.M. yang ditandai tulisan-tulisan bangsa Yunani pada kulit kayu atau logam sehingga bentuk tulisannyapun terlihat kaku dan kuat.lambang bilangan yunani Kuno diambil dari huruf awal dari penyebutan bilangan tersebut.
5.Sistem numerasi Yunani Kuno Alfabetik
Alfabet Yunani adalah script yang telah digunakan untuk menulis bahasa Yunani sejak abad ke-8 SM. Dalam bentuk yang klasik dan modern itu terdiri dari 24 huruf memerintahkan secara berurutan dari alfasampai omega. Alfabet Yunani adalah berasal dari awal alfabet Fenisia, dari mana ia berbeda dengan menjadi abjad pertama yang menyediakan representasi penuh satu simbol ditulis per suara baik untuk konsonan dan vokal. Selain digunakan untuk menulis Yunani,
baik kuno dan modern, huruf dari alfabet Yunani saat ini digunakan sebagai simbol teknis dan label di banyak domain matematika, ilmu pengetahuan dan bidang lainnya.
6.Sistem Numerasi Maya
Tulisan atau angka yang
dikembangkan bangsa maya bentuknya sangat aneh berupa bulatan lingkaran kecil
dan garis-garis. Hali ini tentunya sangat dipengaruhi oleh alat tulis yang
dipakai,yaitu tongkat yang penampangnya lindris (bulat)
7.Sistem Numerasi Hindu-Arab
Angka merupakan lambang bilangan Hindu-Arab
7.Sistem Numerasi Hindu-Arab
Angka merupakan lambang bilangan Hindu-Arab
Sifat-sifat:
* Menggunakan 10 angka / digit yaitu 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9
* Menggunakan sistem bilangan dasar sepuluh. Artinya setiap sepuluh satuan dikelompokkan menjadi satu puluhan, setiap sepuluh puluhan menjadi satu ratusan, dan seterusnya.
* Menggunakan 10 angka / digit yaitu 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9
* Menggunakan sistem bilangan dasar sepuluh. Artinya setiap sepuluh satuan dikelompokkan menjadi satu puluhan, setiap sepuluh puluhan menjadi satu ratusan, dan seterusnya.
·
Menggunakan aturan tempat
Contoh:
1.234
1= ribuan
2= ratusan
3= puluhan
4= satuan
Contoh:
1.234
1= ribuan
2= ratusan
3= puluhan
4= satuan
8. Sistem
Numerasi Jepang Cina.
Karakter Cina
secara teratur untuk nomor menggunakan relatif sedikit strokes.Karakter Cina
reguler untuk menggunakan Angka stroke yang relatif yang karakter sedikit.The
untuk satu, dua, dan tiga hanya satu, dua dan tiga stroke horisontal paralel,
respectively.Karakter untuk Satu, doa Dan Tiga hanya Satu, doa Dan Tiga Stroke
horisontal paralel, masing-masing.To mencegah penipuan saat menulis cek dan
kasus-kasus lain di mana penipuan adalah mungkin, Cina juga menggunakan
serangkaian karakter yang lebih kompleks untuk numbers.Untuk * Mencegah
penipuan ketika menulis Cek Dan kasus-kasus Lain di mana penipuan mungkin, Cina
JUGA menggunakan serangkaian Karakter Yang lebih Kompleks untuk nomor.It mudah
untuk mengubah "satu" menjadi "dua" dalam karakter biasa,
namun dengan karakter yang kompleks formal, ini tidak mungkin. Ulasan Sangat
mudah untuk mengubah "Satu" Ke Illustrasi "doa" Illustrasi
Karakter Biasa, tetapi Artikel Baru Karakter Yang Kompleks formal, inisial
adalah mustahil
9. Sistem Numerasi China.
Cara penghitungan awal di Cina kuno
knotting tali. Dengan kata lain, orang terikat knot di tali untuk menghitung
hal-hal. Dalam sejarah Cina, tali knotting dan ukiran sebagai cara penomoran
telah digunakan selama ribuan tahun sebelum secara bertahap digantikan oleh
tanda-tanda dan karakter di Zaman Neolitik terlambat.
ada 13 karakter yang melambangkan angka dari satu sampai
sepuluh serta seratus, seribu dan sepuluh ribu. Dengan 13 karakter penomoran,
nomor alami dalam seratus ribu bisa dihitung
Beberapa contoh dari
sistem numerasi yang dikenal yaitu :
- Sistem Numerasi
Mesir Kuno
Bersifat aditif, dimana nilai suatu bilangan merupakan hasil penjumlahan
nilai-nilai lambang-lambangnya.
Lambang dan simbol bilangan
Mesir
|
|
|
|
|
|
|

- Sistem Numerasi
Babylonia
Pertama kali orang yang mengenal bilangan 0 (nol) adalah Babylonian.

- Sistem Numerasi
Yunani Kuno
Ada 2 macam:
·
S.N. Yunani kuno attic
Dilambangkan sederhana, dimana angka satu sampai empat dilambangkan dengan lambang tongkat, misal: 2→ ll
·
S.N. Yunani kuno alfabetik
Digunakan setelah S.N. Yunani kuno attic,

- Sistem Numerasi
Maya
Berbasis 20 dan ditulis secara tegak. Suku bangsa Maya sudah mengenal
bilangan tak hingga.

Contoh: menulis 258.458
dalam bilangan Maya
1(20)4 = 160.000
12(20)3= 96.000
6(20)2
= 2.400
2(20)1 = 40
18(20)0 = 18
+
258.458
- Sistem Numerasi
Cina (±200 SM)
- Sistem Numerasi
Jepang-Cina (±200 SM)
- Sistem Numerasi
Romawi (±100 SM)
I =1, I disebut UNUS
V =5 , V disebut QUINQUE
X =10, X disebut DECEM
L =50, L disebut QUINQUAGINTA
C =100, C disebut CENTUM
M =1000
Persamaannya dengan
sistem numerasi hindu arab adalah sama-sama menggunakan basis sepuluh.
Perbedaan dengan
sistem numerasi hindu arab adalah
- Sistem numerasi
hindu arab menggunakan sistem nilai tempat
- Sistem numerasi
romawi tidak menggunakan sistem nilai tempat
4 prinsip yang
digunakan
1) Pengulangan
Angka yang boleh
diulang adalah I , X ,C , M ( tidak boleh diulang lebih dari 3x )
Contoh : 20 = XX , 3= III
4≠IIII tetapi 4=IV
100≠ LL
tetapi 100=C
2) Penjumlahan
Jika suatu angka
diikuti oleh angka yang lebih kecil, maka nilai angka yang lebih kecil menambah
nilai angka sebelumnya .
Yang boleh mengikuti
adalah angka I, V, X, L , C , D )
Contoh : VI =6
XI=11
MD=1.500
3) Pengurangan
Jika angka yang
lebih kecil mendahului nilai angka yang lebih besar, maka nilai angka yang
lebih kecil mengurangi nilai angka yang lebih besar
4) Perkalian



D = 500.000.000
- Sistem Numerasi
Hindu-Arab
Angka merupakan
lambang bilangan Hindu-Arab
Sifat-sifat:
· Menggunakan 10 angka
/ digit yaitu 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9
· Menggunakan sistem bilangan dasar sepuluh.
Artinya setiap sepuluh satuan dikelompokkan menjadi satu puluhan, setiap
sepuluh puluhan menjadi satu ratusan, dan seterusnya.
· Bilangan-bilangan
yang lebih besar daripada 9 dinyatakan sebagai bentuk suku-suku yang merupakan
kelipatan dari perpangkatan 10.
Antar suku
dipisahkan oleh tanda plus ( + ).
Misalnya : 10 = 1x101+0x100
205= 2x102+0x100+5x100
· Menggunakan aturan
tempat
Contoh: 1.234
1= ribuan
2= ratusan
3= puluhan
4= satuan
Beberapa
konsep dalam sistem numerasi:
- Aturan Aditif
Simbolnya sama
nilainya sama dimanapun letaknya.
- Aturan
pengelompokan sederhana
Jika lambang yang
digunakan mempunyai nilai-nilai n0, n1, n2,… dan mempunyai aturan aditif
- Aturan tempat
Jika lambang-lambang
yang sama tetapi tempatnya beda mempunyai nilai yang berbeda
- Aturan
Multiplikatif
Jika mempunyai suatu
basis (misal b), maka mempunyai lambang-lambang bilangan 0,1,2,3,..,b-1 dan
mempunyai lambang untuk b2, b3, b4,..
serta mempunyai
aturan tempat.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar